Selasa, 26 Agustus 2008

Kata bijak seindah mutiara


KHALIL GIBRAN

Kata yang paling indah dibibir umat manusia adalah kata "Ibu", dan panggilan paling indah adalah "Ibuku". Ini adalah kata yang penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.


Bila anda memerlukan kata-kata untuk menggambarkan pengetahuan dan pemahaman, itu seperti burung dalam sangkar. Memiliki sayap namun tak bisa terbang.

/Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari dari padanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya./


/"...pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..."/


/"Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburnya... Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan bisa memperolehnya kembali?"/


/"...kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang"/


/"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta... terus hidup... sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..."/


/"Jangan menangis, Kekasihku... Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah... kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan"/


/"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..."/


/"Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini... pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang"/


/"Setetes airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam keberadaan... Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan... ketimbang jika aku hidup menjemukan dan putus asa"/


/"Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya"/


/"Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku... sebengis kematian... Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara..., di dalam pikiran malam. Hari ini... aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan... sekecup ciuman"/


/Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta./


/Cinta yang dibasuh oleh airmata, akan tetap indah dan suci selamanya./


/Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan./


/Uang receh yang engkau jatuhkan ke dalam tangan-tangan rapuh yang terulur di hadapanmu adalah satu-satunya rantai emas yang mengikat hatimu yang mulia dengan hati Tuhan yang penuh cinta./

/Belajar adalah memelihara benih namun tidak memberimu benih dari dirinya./

/Keindahan adalah sesuatu yang menarik jiwamu. Keindahan adalah cinta yang tidak memberi namun menerima./


/Kecantikan tidak terletak pada wajah, kecantikan adalah cahaya di dalam hati./


/Kemajuan bukanlah semata-mata perbaikan dari masa silam, kemajuan adalah bergerak maju menuju masa depan./


/Orang bodoh yang sombong menyalahkan cermin dan bukan langitnya, dan menyalahkan bayangannya dan bukan bulan yang bercahaya dari ketinggian langit./


/Surga bukanlah ditemukan dalam penyesalan manusia. Surga ditemukan dalam hati yang suci./


/Di dalam hasrat manusia, ada kekuatan kerinduan yang mengubah kabut dalam diri kita menjadi matahari./


/Jiwaku, kehidupan itu seperti seekor kuda di malam hari; semakin cepat larinya, semakin dekatlah pagi hari./


/Jiwa manusia hanyalah bagian dari lentera yang menyala yang diambil Tuhan dari diri-Nya pada saat penciptaan./


/Segala sesuatu yang dicintai anak-anak akan terus dikenang di dalam relung hati manusia sampai tua. Hal yang paling indah adalah bahwa jiwa kita tetap berkelana di atas tempat-tempat yang dulu pernah kita singgahi./


/Kematian adalah akhir dari anak-anak bumi. Tetapi bagi jiwa, kematian adalah suatu awal, suatu kemenangan akan kehidupan./


/Kemuliaan bukanlah terletak pada kedudukan yang mulia. Kemuliaan adalah milik mereka yang menolak kedudukan./


/Neraka bukan dirasakan di dalam siksaan, neraka ada di dalam hati yang hampa./

/Manusia yang tidak memberontak melawan penindasan berarti sudah berbuat tidak adil terhadap dirinya sendiri./


/Penampilan segala sesuatu berubah menurut perasaan, dan karenanya kita dapat melihat keindahan dan pesona di dalamnya, sementara pesona dan keindahan sebenarnya hanya terdapat di dalam diri kita./


/Manusia yang belum pernah mengalami penderitaan tidak akan pernah mengalami kebahagiaan./


/Rahasia sebuah hati disandangkan di dalam penderitaan, dan hanya di dalam penderitaan, sukacita bisa ditemukan. Sementara kebahagiaan hanya berfungsi untuk menyembunyikan misteri terdalam dari kehidupan./


/Pengetahuan terkini dari manusia adalah kabut di atas ladang. Ketika matahari beranjak naik mendekati cakrawala, kabut akan menyerah kepada cahayanya./


/Berpasangan engkau telah diciptakan, dan selamanya engkau akan berpasangan. Bersamalah dikau tatkala Sang Maut merenggut umurmu, Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi Tuhan. Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu, Tempat angin surya menari-nari diantaramu.

*************************************************

Bekerjalah bagaikan tak butuh uang. Mencintailah bagaikan tak pernah disakiti. Menarilah bagaikan tak seorang pun sedang menonton.
- Mark Twain

Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan; jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan; tapi lihatlah sekitar anda dengan penuh kesadaran.
- James Thurber

Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan.
- Frederick E. Crane

Mereka berkata bahwa setiap orang membutuhkan tiga hal yang akan membuat mereka berbahagia di dunia ini, yaitu; seseorang untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu untuk diharapkan.
- Tom Bodett

Ancaman nyata sebenarnya bukan pada saat komputer mulai bisa berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti komputer.
- Sydney Harris

Pahlawan bukanlah orang yang berani menetakkan pedangnya ke pundak lawan, tetapi pahlawan sebenarnya ialah orang yang sanggup menguasai dirinya dikala ia marah.
- Nabi Muhammad Saw

Cara untuk menjadi di depan adalah memulai sekarang. Jika memulai sekarang, tahun depan Anda akan tahu banyak hal yang sekarang tidak diketahui, dan Anda tak akan mengetahui masa depan jika Anda menunggu-nunggu.
- William Feather

Dalam masalah hati nurani, pikiran pertamalah yang terbaik. Dalam masalah kebijaksanaan, pemikiran terakhirlah yang paling baik.
- Robert Hall

Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri.
- Martin Vanbee

Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi.
- Ernest Newman

Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak.
- Aldus Huxley

Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai.
- Schopenhauer

Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh.
- Andrew Jackson

Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil; kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik.
- Evelyn Underhill

Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia, tetapi perbuatan pura-pura itulah sebenarnya yang menimbulkan permusuhan dan pengkhianatan.
- Johan Wolfgang Goethe

Jika orang berpegang pada keyakinan, maka hilanglah kesangsian. Tetapi, jika orang sudah mulai berpegang pada kesangsian, maka hilanglah keyakinan.
- Sir Francis Bacon

Karena manusia cinta akan dirinya, tersembunyilah baginya aib dirinya; tidak kelihatan olehnya walaupun nyata. Kecil di pandangnya walaupun bagaimana besarnya.
- Jalinus At Thabib

Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putus-nya dipukul ombak. Ia tidak saja tetap berdiri kukuh, bahkan ia menenteramkan amarah ombak dan gelombang itu.
- Marcus Aurelius

Kita melihat kebahagiaan itu seperti pelangi, tidak pernah berada di atas kepala kita sendiri, tetapi selalu berada di atas kepala orang lain.
- Thomas Hardy

Kaca, porselen dan nama baik, adalah sesuatu yang gampang sekali pecah, dan tak akan dapat direkatkan kembali tanpa meninggalkan bekas yang nampak.
- Benjamin Franklin

Keramahtamahan dalam perkataan menciptakan keyakinan, keramahtamahan dalam pemikiran menciptakan kedamaian, keramahtamahan dalam memberi menciptakan kasih.
- Lao Tse

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya; hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah.
- Abu Bakar Sibli

Rahmat sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan dan kekecewaan; tetapi kalau kita sabar, kita segera akan melihat bentuk aslinya.
- Joseph Addison

Bagian terbaik dari hidup seseorang adalah perbuatan-perbuatan baiknya dan kasihnya yang tidak diketahui orang lain.
- William Wordsworth

Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah.
- Kahlil Gibran

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
- Alexander Pope

Teman sejati adalah ia yang meraih tangan anda dan menyentuh hati anda.
- Heather Pryor

Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.
- Thomas Alva Edison

Tiadanya keyakinanlah yang membuat orang takut menghadapi tantangan; dan saya percaya pada diri saya sendiri.
- Muhammad Ali

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
- Confusius

Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya; hidup di tepi jalan dan dilempari orang dengan batu, tetapi dibalas dengan buah.
- Abu Bakar Sibli

Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.
- Mahatma Gandhi

Teman sejati adalah ia yang meraih tangan anda dan menyentuh hati anda.
- Heather Pryor


(Dari berbagai sumber)

Air Mata Rasulullah

Pagi itu begitu hening, burung-burung seakan enggan untuk berkicau.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan
badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan
kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit
dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah
dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
"Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah
berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata
Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak
tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera
mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"
"peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."


Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan
telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Minggu, 24 Agustus 2008

HAK - HAK MUSLIM

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw : “Hak muslim atas muslim itu ada enam : Apabila kamu bertemu dengannya , hendaklah engkau memberi salam kepadanya, apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau memperkenankannya; apabila ia minta nasihat, hendaklah engkau menasihatinya; apabila ia bersin lalu membaca Alhamdulillah, hendaklah engkau do’akan dia; apabila ia sakit, hendaklah engkau melawat dia, dan apabila ia mati, hendaklah engkau ikuti/antarkan (jenazahnya ke kuburan)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

PENJELASAN

Arti Hak
Kata Hak termasuk lafad musytarak yang mempunyai arti beragam sesuai dengan konteks kalimatnya. Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab mengartikan Hak sebagai : 1) benar, lawan batil, 2) milik atau kepunyaan ataupun bagian yang didapat, 3) kewajiban yang harus ditunaikan, dll.

Menurut Muhammad Ismail Ash-Shan’ani dalam kitabnya Subul as-Salam yang dimaksud dengan kata Hak dalam Hadits ini adalah suatu tuntutan yang patut dikerjakan, yang hukumnya boleh jadi wajib atau sunat. Jika tuntutan itu keras, maka wajib hukumnya; dan hukumnya sunnat, jika tuntutannya ringan.

Adapun hak-hak muslim atas muslim adalah :

(1)
إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ

“Apabila kamu bertemu dengannya, hendaklah engkau memberi salam kepadanya”

Salam berasal dari kata salima artinya selamat atau sentosa. As Salaam termasuk salah satu dari nama-nama Allah yang mulia (asmaul husna) yang artinya Maha Sejahtera. Kalimat “Assalamu’alaikum” artinya : “semoga kamu berada dalam pemeliharaan Allah” atau “semoga Allah bersamamu dan Dia selalu menyertaimu”. Ada pula yang mengartikan sebagai “as-salaamah”, yakni semoga terhindar dari cela dan celaka.

Dengan demikian salam ialah ucapan atau do’a keselamatan. Oleh karena itu mengucapkan salam termasuk perbuatan yang terpuji dan utama, sebagaimana sabda Nabi saw :

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (رواه البخارى ومسلم)

“Seorang lelaki bertanya kepada Nabi saw : Manakah Islam yang paling baik? Engkau memberi makan (orang miskin) dan mengucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan orang yang tidak kau kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw menganjurkan agar salam itu disebarkan di antara kita, dalam sabdanya :

لاَتَدْخَلُوْا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا, وَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا. أَوَلاَ أَدُلُّكُ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوْا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ (رواه مسلم)

“Kamu tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak disebut beriman sehingga saling mencintai. Maukah kamu aku tunjukkan pada sesuatu yang jika kamu mengerjakannya kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!”. (HR. Muslim).
Dalam praktik penggunaannya salam mempunyai beberapa fungsi, antara lain dapat diterangkan sebagai berikut :

1.Salam litta’abbud
Salam litta’abbud maksudnya salam untuk ibadah. Yaitu salam yang diucapkan untuk mengakhiri shalat. Kedudukan salam dalam shalat itu adalah ta’abudi yang sifatnya ghair ma’qul (sulit difaham). Sehingga dalam hal ini kita tidak bisa bertanya kenapa demikian dan apa sebabnya . Siapapun yang shalat, imam atau ma’mum, munfarid atau berjama’ah, shalat wajib atau shalat sunat semuanya harus mengucapkan salam diakhir shalatnya.

2.Salam Lil-isti’dzan
Salam Lil-isti’dzan ialah salam untuk minta izin. Yaitu salam yang diucapkan ketika kita hendak memasuki rumah orang lain sekalipun belum bertemu dengan penghuni rumah itu, sesuai dengan firman Allah saw :

يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا لاَتَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah-rumah yang bukan rumah kamu sebelum kamu meminta idzin dan memberi salam kepada penghuninya yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat”. (Q.S. An-Nur,24:27).

Salam isti’dzan ini maksimal diucapkan tiga kali, sesuai dengan sabda Nabi saw :

اَلْإِسْتِئْذَانُ ثَلاَثَةٌ فَإِنْ أُذِنَ لَكَ وَإِلاَّ فَارِجِعْ (رواه البخارى ومسلم)

“Meminta idzin itu tiga (kali), jika kamu diberi izin, dan jika tidak, maka pulanglah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Salam isti’dzan ini harus diucapkan juga apabila kita masuk rumah saudara, kerabat bahkan rumah kita sendiri. Dalam hal ini Allah swt berfirman :

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللهِ مُبَارَكًا طَيِّبَةً

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik”. (Q.S. An-Nur/24:61)

Kata Anas : Rasulullah berpesan kepadaku dengan lima perkara (antara lain) : “Ucapkanlah salam atas keluargamu niscaya akan bertambah banyak kebaikan rumahmu”.

3.Salam littahiyyah
Salam littahiyyah ialah salam sebagai penghormatan terhadap sesama muslim. Salam ini disebut juga salam liqo (salam perjumpaan), yaitu salam yang diucapkan pada waktu baru bertemu, sesuai dengan firman Allah swt :

وَإِذَا حُيِّتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa), sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. An Nisa/4:86)

Abu Dawud meriwayatkan :

إِذَا لَقَيَ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهَ

“Apabila seseorang kamu bertemu dengan kawannya, maka ucapkanlah salam kepadanya”

Kata Anas : Rasulullah berpesan kepadaku dengan lima perkara (antara lain) : “Ucapkanlah salam atas orang yang bertemu denganmu dari ummatku, niscaya akan bertambah kebaikanmu”.

Adapun kaifiyat dalam salam tahiyyah atau salam liqo sebagaimana dijelaskan dalam riwayat-riwayat berikut ini :

a) Bila dua orang atau dua rombongan bertemu maka yang paling baik dari antara keduanya ialah yang paling dahulu mengucapkan salam, sesuai dengan sabda Nabi saw :

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللهِ مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلاَمِ (رواه أبو داود)

“Sesungguhnya orang yang paling dekat dengan (rahmat) Allah dari antara dua orang yang bertemu ialah yang terlebih dahulu memberi salam”. (HR. Abu Dawud).

b) Dalam riwayat Bukhori, Muslim dan Abu Dawud Rasulullah memberikan tuntunan adab memberi salam sebagai berikut :
لِيُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ, وَفِى رِوَايَةِ الْمُسْلِمِ : وَالرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى

“Hendaklah yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak dan yang berkendaraan kepada yang berjalan”.

c) Apabila yang berjumpa itu berombongan, maka adabnya sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini :

يُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ إِذَا مَرُّوْا أَنْ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمْ وَيُجْزِئُ عَنِ الْجَمَاعَةِ أَنْ يَرُدَّ أَحَدُهُمْ (رواه أحمد والبيهقى)

“Apabila satu rombongan berjalan, cukuplah salah seorang dari mereka memberi salam, dan cukup (pula) seseorang dari antara mereka menjawabnya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Baihaqi).

d) Bila bertemu dengan wanita muslim dianjurkan pula mengucapkan salam sebagaimana hadis berikut ini :

قَالَتْ أَسْمَاء مَرَّ عَلَيْنَا النَّيِيُّ فِى النِّسْوَةِ فَسَلَّمَ عَلَيْنَا

“Kata Asma, Nabi saw lewat kepada kami, para wanita, dan beliau memberi salam kepada kami”. (HR. Abu Dawud).

e) Rasululah memberi tuntunan dalam rangka pendidikan agar mengucapkan salam bila bertemu dengan anak-anak :

أَنَّ النَّبِيَّ مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ يَلْعَبُوْنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

“Bahwasanya Rasululah lewat di kerumunan anak-anak yang sedang bermain, lalu beliau mengcapkan salam kepada mereka”. (Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

f) Dilarang memberi salam kepada Ahli Kitab, sesuai dengan sabda Nabi saw :

لاَتَبْدَؤُؤْا الْيَهُوْدَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ…. (رواه مسلم)

“Janganlah kamu mulai salam kepada Yahudi dan Nasrani….”. (HR. Muslim).

Bagaimana jika orang non muslim mengucapkan salam kepada kita? Rasulullah saw bersabda :

إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُوْلُوْا : وَعَلْيْكُمْ!

“Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepada kamu, maka jawablah “wa ‘alaikum”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullullah saw tidak pernah mengucapkan salam terhadap orang non Muslim (khususnya Ahli Kitab), salam yang beliau tulis dalam suratnya terhadap Heraclius bukan salam dalam arti memberi atau mengucapkan salam, tetapi mengajak agar Heraclius masuk Islam yang dengannya akan memperoleh keselamatan. Dalam suratnya kepada Heraclius itu beliau menulis :

اَلسَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى (رواه البخارى ومسلم)

“Keselamatan atas orang-orang yang mengikuti petunjuk (Islam)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

g) Bila dalam suatu majlis terdapat orang-orang non muslim, tetaplah memberi salam kepada para muslimin, sesuai dengan riwayat berikut ini :

أَنَّ النَّبِيَّ مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيْهِ أَخْلاَطٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُشْرِكِيْنَ عَبَدَةِ اْلأَوْثَانِ وَالْيَهُوْدِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ (رواه البخارى)

“Bahwa Rasulullah lewat dikerumunan orang muslim, musyrikin penyembah berhala dan orang-orang Yahudi, lalu Rasulullah salam kepada mereka (orang muslim)”. (HR. Bukhari).

h) Bila kita menerima titipan salam, maka jawabannya sebagaimana diterangkan dalam riwayat berikut ini. Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah :

هَذَا جِبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ, فَقَالَتْ : وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“(Hai ‘Aisyah), Sesunguhnya Jibril mengucapkan salam kepadamu. ‘Aisyah menjawab : ‘Wa ‘alaihis-salam wa rohmatullah wa barakatuh”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwaya Abu Dawud diterangkan bahwa seseorang dari kabilah Bani Tamim datang kepada Rasulullah saw dan menyampaikan salam dari bapaknya untuk Nabi saw. Lalu Rasulullah menjawab : “’alaika wa ‘ala abika as-salam”.
أَنَّ رَجُلاً قَالَ لَهُ : إِنَّ أَبِي يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ, فَقَالَ لَهُ : عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمُ

“Bahwasanya seseorang berkata kepadanya (Rasulullah saw) : Sesungguhnya bapaku menyampaikan salam untukmu. Maka beliau menjawab : “Untukmu dan untuk bapakmu keselamatan”. (HR. Abu Dawud).

i) Sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nisa (4) ayat 86 yang artinya : “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (dengan yang serupa), sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. Makssudnya, bila seseorang mengucapkan : “Assalamu ‘alaikum”. Jawablah : “Wa ‘alaikum salam wa rohmatulah “. Bila yang memberi salam mengucapkan : “Asalamu’alaikum wa rohmatullah”. Jawablah : “Wa ‘alaikum salam wa rohmatullah wa barolatuh”. Inilah yang dimaksud dengan firman : “balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik”. Dan apabila yang memberi salam mengucapkan : “Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh”. Maka jawablah dengan yang serupa, yaitu : “wa ‘alaikum salam wa rohmatulahi wa barokatuh”.

a)Tingkatan-tingkatan salam. Rasulullah saw bersabda :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَ : اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ وَقَالَ : "عَشْرَةٌ", ثُمَّ جَلَسَ, ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ : اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ, فَرَدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ وَقَالَ : "عِشْرُوْنَ" ", ثُمَّ جَلَسَ, وَجَاءَ آخَرُ فَقَالَ : اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, فَرَدَّ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ وَقَالَ : "ثَلاَثُوْنَ"(رواه البخارى والنسائى والترمذى)

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi saw, lalu ia berkata : “Assalamu ‘alaikum”. Maka Nabi saw menjawab salamnya, dan bersabda : “Sepuluh(pahalanya)”, kemudian orang itu duduk. Kemudian datang lagi yang lainnya, lalu berkata : “Assalamu’alaikum wa rohmatullahi”. Maka Nabi saw menjawab salamnya, dan bersabda : “Dua pululuh (pahalanya)”, lalu orang itu duduk. Dan datang (pula) yang lainnya, lalu berkata : “Assalamu’alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh”. Maka Rasulullah saw menjawab salamnya, dan berdsabda : “Tiga puluh (pahalanya)”. (HR. Bukhari, Nasai dan Tirmidzi).

Ibnu Qayyin Al-Jauziyah menjelaskan, bahwa salam itu adalah do’a bagi kebaikan. Dan do’a bagi kebaikan harus disebut do’anya terlebih dahulu, baru kemudian disebut orang yang dido’akannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

رَحْمَتُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ

“Rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait”. (Q.S. Hud,11:73).

وَسَلاَمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal”. (QS. Maryam,19:15).

سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ

“Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu”. (QS. Ar-Ra’d,13:24).

Adapun do’a untuk keburukan, biasanya disebut terlebih dahulu orang yang dido’akannya dan do’anya disebut kemudian, sebagaimana firman Allah swt kepada Iblis :

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِى أِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

“Dan sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari penghabisan” (QS. Shad,38:78).

Dan kepada para pengikut Iblis :

وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ

“Mereka mendapat kemurkaan Allah dan bagi mereka adzab yang sangat keras”. (QS. Asy-Syura,42:16).


Sesungguhnya dalam sunnah tidak ada perbedaan antara salam kepada orang mati dan kepada orang hidup. Misalnya salam bagi ahli kubur saat kita ziarah kubur, dengan ucapan “assalamu ‘alaikum ya ahlal qubur”.

4. Salam lid-Du’a.
Ialah salam yang pada prinsipnya untuk mendo’akan, yaitu salam kepada ahli kubur yang muslim, sesuai dengan sabda Nabi saw : “Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata : Adalah Rasulullah mengajarkan mereka jika ziarah ke kuburan hendaklah mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ (رواه أحمد ومسلم وابن ماجه)

“Assalamu’alaikum wahai penghuni kubur dari (kaum) yang mu’min dan yang muslim dan kami insya Allah pasti akan menyusul, kami memohon keselamatan kepada Allah untuk kami dan untuk kamu sekalian”. (HR. Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah).

1.Salam lil-Firaq.
Ialah salam yang diucapkan apabila hendak berpisah, sesuai dengan sabda Nabi saw :

إِذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيُسَلِّمْ وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ وَلَيْسَتِ اْلأُوْلَى أَحَقُّ مِنَ اْلآخِرَةِ

“Apabila seseorang kamu datang ke suatu majlis, ucapkanlah salam; dan apabila hendak menginggalkan/berpisah, ucapkan (pula) salam, dan salam yang pertama tidak lebih utama daripada salam yang terakhir”. (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)).

Adapun salam yang diucapkan sebelum khutbah atau ceramah padanya tidak terdapat keterangan yang sahih yang dapat dijadikan hujjah. Semua hadis tentang itu lemah atau dhaif. Misalnya hadis berikut ini :

فَمَنْ بَدَأَكُمْ بِالْكَلاَمِ قَبْلَ السَّلاَمِ فَلاَ تُجِيْبُوْهُ

“Barangsiapa yang memulai pembicaraan sebelum salam, janganlah dijawab”. (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim).

Hadis tersebut dha’if atau lemah, karena dalam sanadnya terdapat seorang bernama Harun Muhammad Abu Thayib. Dia dikenal sebagai seorang Pendusta (kadzdzab). Demikian An-Nawawi menjelaskan dalam Faidul Qadir Juz 6 halaman 94.

Hadits lainnya :

اَلسَّلاَمُ قَبْلَ الْكَلاَمِ ,وَفِى لَفْظٍ : لاَتَدْعُوْا أَحَدًا إِلَى الطَّعَامِ حَتَّى يُسَلِّمَ

“Salam itu sebelum berbicara. Janganlah kamu mengajak seseorang makan sehinga ia salam terlebih dahulu”.

Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Fadl bin Shobah, dari Sa’ad bin Zakaria, dari Anbasah bin Abdurahman, dari Muhamad bin Zaadzaan, dari Muhammad bin Munkadir, dari Jabir bin Abdillah. Dalam kitab Silsilah Al-Ahadits ad-Dhaifah oleh Nashiruddin al-Bani pada juz VI, hal. 221-222, hadis nomor 1736, dikatakan sebagai hadis maudlu’ (palsu).

Kata beliau hadis ini dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Abi Ya’la dalam Musnadnya 2/115, dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan 2/78 dari Anbasah bin Abdurrahman (seperti dijelaskan dalam riwayat Turmudzi juga) dari Muhammad bin Zaadzaan, dari Muhammad bin Munkadir dari Jabir bin Abdillah. Imam Tirmidzi sendiri berkata : Ini hadis munkar. Kata Tirmidzi pula : Saya telah mendengar Muhamad (maksudnya Imam Bukhari) berkata : “Anbasah bin Abdurahman adalah perawi yang dha’if (lemah) dalam hadits, dia seorang pelupa. Dan Muhammad bin zaadzaan juga munkar.

Kata Muhammad Nashiruddin Albani : Berkata Al-Hafid dalam Taqrib : Dia (Muhammad bin Zaadzaan) adalah matruk, yakni ditinggalkan oleh para ahli hadis. Demikian juga Anbasah bin Abdurahman adalah seorang yang matruk.

Dengan demikian, maka hadis ini pun tidak dapat dijadikan hujjah karena kedha’ifannya. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah menerangakan, bahwa Rasulullah saw selalu memulai khutbahnya dengan “hamdalah”. Dan tidak ada satupun riwayat bahwa Nabi saw pernah berkhutbah diawali dengan salam.

(2)
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْه
“Apabila ia mengundangmu, hendaklah engkau memperkenankannya”

Ash Shan’ani mengatakan bahwa memenuhi undangan ini bersifat umum, tetapi para ulama membatasinya dengan memenuhi undangan walimah. Dan Jumhurul Ulama mengatakan bahwa memenuhi undangan walimah hukumnya wajib, berdasarkan nash-nash berikut ini :

مَنْ دُعِيَ إِلَى وَلِيْمَةٍ وَلَمْ يُجِبْ, فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ (مسلم)

“Barangsiapa yang diundang pada suatu walimah dan tidak memperkenankannya, sungguh ia telah durhaka kepada Abul Qasim (Rasulullah saw)”. (HR. Muslim).

وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُولَهُ (رواه البخارى)
“Dan barangsiapa meninggalkan undangan, sungguh ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari).

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : لَوْ دُعِيْتُ إِلَى كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ, وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ ذِرَاعٌ لَقَبِلْتُ (رواه البخارى)

“Rasulullah saw bersabda : “Jika aku diundang untuk makan kaki kambing, niscaya saya datangi. Dan sekiranya aku dihadiahi kaki depan kambing, niscaya saya terima”. (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan tentang syarat-syatar undangan yang wajib didatangi, yaitu :
a.Pengundangnya sudah mukallaf.
b.Undangan itu tidak dikhususkan untuk orang-orang kaya saja, sedang yang miskin tidak diundang. Memenuhi undangan yang demikian hukumnya makruh. Rasulullah saw bersabda :
شَرُّ طَعَامِ الْوَلِيْمَةِ يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيْهَا وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا, وَمَنْ لَمْ يُجِبِ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلُهُ (رواه مسلم)

“Makanan yang paling jelek adalah pesta walimah perkawinan yang tidak mengundang orang yang mau datang kepadanya (miskin), tetapi mengundang orang yang enggan datang kepadanya (kaya). Barang siapa tidak memperkenankan undangan maka sesungguhnya ia telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Muslim).

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيْمَةِ, يُدْعَى لَهَا اْلأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ (رواه البخارى)

“Seburuk-buruk makanan ialah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya akan tetapi meninggalkan orang-orang miskin”. (HR. Bukhari).

c.Undangan itu tidak ditujukan kepada orang-orang tertentu yang disenangi dan dihormati.
d. Pengundangnya seorang muslim.
e.Belum didahului oleh undangan lain. Jika ada undangan lain, maka undangan yang pertama wajib didahulukan.
f.Yang diundang tidak ada halangan atau udzur. Udzur di sini boleh jadi orangnya sakit atau tempatnya jauh sehingga sangat memberatkan yang diundang.
g.Dalam walimah tersebut tidak ada kemunkaran. Misalnya dalam walimah itu disediakan khamar (minuman keras), sebagaimana sabda Nabi saw :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يَقْعُدُ عَلَى مَائِدَةٍ تُدَارُ عَلَيْهَا الْخَمْرُ (رواه أحمد)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak boleh duduk pada suatu hidangan (walimah/resepsi) yang padanya disuguhkan khamar”. (HR. Ahmad).

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ عَنِ الْجُلُوْسِ عَلَى مَائِدَةٍ عَلَيْهَا الْخَمْرُ

“Rasulullah saw melarang duduk pada hidangan (walimah) yang padanya disediakan khamar”. (HR. Abu Dawud).

Bolehkah menghadiri undangan tanpa diundang?
Dahulu pada zaman Rasulullah saw ada seseorang yang bernama Thufail dari Bani Abdillah bin Ghattafan, dia sering mendatangi walimah tanpa diundang, kebiasaannya diketahui umum, akhirnya orang menamakannya “thufaily” (kekanak-kanakan) kepada siapa saja yang turut makan di tempat walimah tanpa diundang, orang yang berbuat seperti itu dinamakan juga “warisy”, dan orang yang datang ke walimah membonceng kepada orang yang diundang, dinamakan “dhoyyifun”.

Sehubungan dengan hal tersebut, ada sebuah hadits riwayat Abu Dawud, dan Abu Dawud sendiri menyatakan bahwa hadits itu lemah, karena pada sanadnya ada yang bernama Abban bin Thariq, dia itu majhul, tidak dikenal. Dan Ibnu Hajar al Asqalani menyatakan hadits itu dha’if. Adapun lafad hadits itu berbunyi :

مَنْ دَخَلَ عَلَى غَيْرِ دَعْوَةٍ دَخَلَ سَارِقًا وَخَرَجَ مُغِيْرًا

“Barangsiapa yang masuk tanpa diundang, ia masuk sebagai pencuri dan keluar sebagai perampok”.

Akan tetapi tidak setiap yang datang ke walimah tanpa diundang itu termasuk golongan “thufaily” yang tidak tahu diri, melanggar aruran atau tidak punya malu.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits yang menerangkan bahwa Abu Syu’aib pernah menyuruh orang supaya menyediakan makanan untuk lima orang. Rasulullah saw diundang oleh Abu Syu’aib Al Anshari berlima, tetapi kebetulan ada orang yang ikut pergi bersama Rasulullah saw ke tempat walimah itu dan jumlah undangan menjadi enam orang. Sehubungan dengan itu Rasulullah saw bersabda kepada Abu Syu’aib :

إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ, وَهَذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا, فَإِنْ شِئْتَ أَذِنْتَ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتَهُ, قَالَ : بَلْ أَذِنْتُ لَهُ.

“Sesungguhnya kamu mengundang kami berlima, dan ini laki-laki ikut kami, bila kamu mengizinkan dia izinkanlah dia (turut makan) dan bila kamu mau menolak dia, tolaklah dia”. Abu Syu’aib berkata : “Tidak, saya mengizinkan dia”.
Dalam peristiwa lain Al Bukhari meriwayatkan, bahwa pada suatu ketika Rasulullah saw ada di masjid dengan para sahabat, datanglah Anas mengundang Rasulullah saw untuk makan sebagai suruhan Abu Thalhah. Lalu Rasulullah saw mengajak para sahabat untuk pergi ke rumah Abu Thalhah. Tatkala Abu Thalhah melihat Rasulullah saw datang berserta rombongan, ia berkata kepada istrinya :

يَا أُمَّ سُلَيْمٍ قَدْ جَاءَ رَسُوْلُ اللهِ بِالنَّاسِ وَلَيْسَ عِنْدَنَا مَا نُطْعِمُهُمْ

“Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah saw telah datang bersama orang-orang, padahal kita tidak ada makanan untuk mereka”.

Imam Muslim meriwayatkan pula, bahwa Rasulullah saw pernah diundang oleh seorang Persi, yang masyhur sangat lezat gulainya, enak masakannya; tatkala Rasulullah saw menerima undangan itu, istrinya, Siti Aisyah ada, Rasulullah saw mengajukan usul agar istrinya diundang. Tapi orang itu keberatan, entah apa alasannya, mungkin takut tidak cukup atau sebab-sebab lain, dan Rasulullah saw pun menolak undangan itu.
Berdasarkan keterangan-keterangan itu, para ulama mengambil kesimpulan, bahwa tidak boleh mendatangi walimah tanpa undangan kecuali bila diketahui atau dapat dipastikan tuan rumah rela, seperti yang Rasulullah saw lakukan saat menerima undangan dari Abu Thufail.

Bila hal itu disangsikan, hendaklah berterus terang kepada ahli bait seperti Rasulullah saw berterus terang kepada Syua’ib. Dalam Kitab Fathul bari dijelaskan :

وَاسْتَدَلَّ بِهِ عَلَى مَنْعِ اسْتِنْبَاعِ الْمَدْعُوِّ غَيْرَهُمْ إِلاَّ إِذَا عَلِمَ مِنَ الدَّاعِى الرِّضَا بِذَلِكَ
“Dan beralasan dengan hadits ini, tidak boleh yang diundang membawa orang lain yang tidak diundang kecuali bila ia tahu bahwa yang mengundang dia rela dengan perbuatannya itu”.

Rasulullah saw bersabda :

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى وَلِيْمَةٍ فَلْيَأْتِهَا

“Apabila seseorang di antara kamu diundang kepada walimah, hendaklah ia mendatanginya”. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Kita diperintahkan memenuhi undangan, mendatangi walimah, selama walimah itu tidak termasuk walimah bid’ah tabdzir, dan semata-mata riya dan kemaksiatan atau ada udzur (alasan), sebagaimana Rasulullah saw berhalangan untuk mendatangi undangan seorang Persi.

Walimah artinya makanan yang disediakan untuk orang banyak atau undangan. Dan lazim diartikan makanan yang disediakan untuk walimatul ‘urusy (walimah pengantin). Sedekah atau hadiah makanan, tanpa mengirimkan undangan, tapi kita antarkan makanan itu kepada orang-orang tertentu, yang seperti itu tidak disebut walimah, sebab mereka tidak berkumpul pada satu tempat untuk makan berjama’ah.

Untuk walimah dicontohkan Rasulullah saw menerima bantuan atau sumbangan dari mereka yang diundang dan mereka makan berjama’ah. Waktu Rasulullah saw nikah dengan Shofiyah beliau memesan kepada para sahabat :

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ شَيْءٌ فَلْيَجِئْ بِهِ

“Barangsiapa yang mempunyai sesuatu hendaklah ia membawanya”.

Kemudian disediakan wadah untuk makanan, dan dari antara mereka ada yang membawa korma, samin dan sebagainya, lalu itu semua dicampurkan, dan mereka makan berjama’ah. Dan diakhir hadits itu diterangkan :

فَكَانَتْ وَلِيْمَةُ رَسُوْلِ اللهِ

“Maka itulah walimah Rasulullah saw”. (HR. Bukhari).

---ooOoo---

Gelar-gelar Ahlus Sunnah Wal Jama'ah

Sumber : Syeikh Omar Bakri Muhammad
Sa'id ibnu Jabir menjelaskan Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 103 :
"pada hari perhitungan/keputusan ada orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri atau berwajah suram..."

"Hal itu berarti bahwa perbuatan yang paling bagus adalah menjadi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah".

Abdullah ibnu Abbas berkata mengenai ayat tersebut:

"Orang-orang yang berwajah putih berseri adalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dan orang-orang yang memiliki wajah suram adalah Ahlul Bid'ah wal Firqoh"
Imam Zuhri berkata:
"Para ahli kami berkata, berpeganglah pada sunnah, maka akan selamat.(Darimi vol.1 hal 45)

Imam Uza'i berkata:
"Lima hal yang dimiliki oleh shahabat yakni berada dalam jama'ah (di bawah Amirul Mu'minin) dan mengikuti Sunnah, mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan kejahatan, jihad di jalan Allah, dan persaudaraan (memelihara ukhuwah)".

Abu Bakar r.a. berkata:
"Sunnah itu adalah tali agama Allah"
Umar bin Khaththab berkata:
"Seseorang yang mengedepankan akal adalah musuh dari sunnah"

Abdullah bin Umar berkata:
"Barang siapa meninggalkan Sunnah maka ia kafir".

Sofyan bin 'Unayna berkata:
"Ada sepuluh hal yang harus dimiliki oleh Ahlus Sunnah, Barang siapa yang meninggalkannya maka ia bukan dari golongan Ahlus Sunnah, yaitu :

1. mereka percaya pada Qodar (takdir baik dan buruk dari Allah)
2. mereka percaya bahwa Abu Bakar adalah Khalifah pertama, setelah itu Khalifah Umar
3. Al-Hawd (Telaga Rasulullah saw. Di Surga)
4. Syafa'at ( pada hari keputusan/hari peradilan)
5. Mizaan
6. Shiraat
7. Iman itu adalah perkataan yang diiringi oleh perbuatan
8. Al Qur'an adalah wahyu Allah
9. percaya adanya siksa kubur
10. percaya adanya hari kebangkitan

Para Ahli Sunnah Wal Jama'ah berkata ketika mereka ditanya,"Bagaimana kita tahu seseorang dari golongan Ahlu Sunnah Wal Jama'ah?"

Apabila dia memiliki ciri-ciri berikut :

1. Selalu memperjuangkan jama'ahnya
2. Tidak pernah mendustakan para shahabat
3. Tidak pernah memerangi umat (semena-mena terhadap umat)
4. Percaya pada Qodar
5. Tidak ada keraguan tentang iman (mempunyai iman yang kuat) dan iman itu adalah perkataan yang diiringi oleh perbuatan.
6. Tidak berbuat Irja' (Memisahkan antara keyakinan dan perbuatan)
7. Tidak akan pernah berhenti beribadah
8. Selalu menjaga langkah kaki/aurat
9. Tidak meningggalkan ibadah di samping menegakkan khilafah

BUKU-BUKU AQIDAH

Kitab Al Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal (242 H)
Kitab Al Sunnah: Abdullah bin Ahmad (290 H)
Kitab Al Sunnah: Abu Bakar bin Al Athram (272 H)
Kitab Al Sunnah: Ibnu Abi Aasim (287 H)
Kitab Al Sunnah: Muhammad bin Nasr Al Marwazi (294 H)
Kitab Sareeh Al Sunnah: Abu Ja'far al Tahaawie (310 H)
Kitab Al Sunnah: Imam Ahmed bin Muhammad (Imam Al Khallal) (d.311 H)
Kitab Sharh Usul Al Sunnah: ibn Batta Al Akburi (387 H)
Kitab Al Sunnah: ibn Abi Zamneen (399 H)
Semua buku-buku Aqidah tersebut yang ditulis Ahlus Sunnah Wal Jama'ah disebut Al-Sunnah, hal tersebut untuk menunjukkan bahwa Al-Aqidah itu adalah Al-Sunnah.

Hasan Al-Basri berkata, pada salah satu ayat surat Al-Maidah,
"Ash-Shari'ah itu adalah As-Sunnah"

Ibnu Taimiah berkata:
"Sunnah itu adalah syari'ah"

dan beliau berkata:
"Jika kamu paham Sunnah, maka kamu wajib mengikutinya,....."

Abdul Rahman bin Mahdi berkata:
"Orang-orang mempunyai derajat yang berbeda, sebagaimana mereka adalah imam dari Sunnah dan Hadits, dan sebagaimana dari mereka imam Hadits bukan Imam Sunnah, seseorang yang merupakan imam Sunnah dan Hadits adalah Sufyan Ats-Tsauri"

15 nama/sebutan bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah

1.Ahlus Sunnah wal Jama'ah
2.Ath-Thaa'ifah Al-Mansuurah (Jama'ah yang menang)
3.Ath-Thaa'ifah Adz-Dzohiroh (Jama'ah yang berkuasa)
4.A'immatul Huda (Imam/Kalangan yang Mendapat Petunjuk)
5.Ahlul Qur'an Al-Faadhilah (Orang-orang terbaik pada abadnya)
6.Ashaabu As-Sunnah wal Hadits (Orang-orang Sunnah dan Al Hadits)
7.As-Salaf As-Salih (Leluhur/pendahulu yang Saleh)
8.Al-Firqoh An-Naajiyah (Mazhab Yang Selamat)
9.Ahlul Al-Ittibaa'(Orang-orang yang tunduk/patuh/mengikuti)
10.Al-Jama'ah (Jama'ah)
11.Al-Ghurabaa (Orang-orang yang 'Asing')
12.Ahlul Al-Athar (Kisah orang-orang Ahlus Sunnah)
13.Jama'atul Muslimin (Muslim di bawah kepemimpinan satu khalifah)
14.Ahlu Al-Ilmi (Orang-orang berpengetahuan)
15.As-Salafiyyah (Salafus Sholeh)

ARTI AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH

1. Umum

Secara umum hal ini berarti berlawanan dengan shi'ah sehingga mereka ini adalah siapa saja yang mengucapkan laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah, serta shalat menghadap kiblat

2. Khusus

Secara khusus adalah Rasulullah saw beserta sahabatnya
Hal ini tidak termasuk:
· Al Khawarij
· Shi'ah
· Murji'ah
· Al-Qodariyah
· Al-Jahmiyyah

Siapa Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dan dimana mereka?
1. Shahabat
2. Mereka yang mengikuti shahabat
3. Mereka yang mengikuti apa-apa yang disampaikan oleh generasi sebelumnya (yaitu sahabat dan tabi'in yang Ihsan)

Siapa mereka itu?

Ibnu Taimiyyah berkata :
".....mereka adalah para Shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah karena mereka selalu mengikuti shari'ah dan jama'ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358)

Abdullah ibnu Amru mengisahkan:

Rasulullah saw bersabda :
"Umat-ku akan mengikuti kaum Bani Israil, sungguhpun jika salah seorang dari mereka menggauli ibunya di depan umum (secara seksual), maka akan ada satu dari umat-ku akan berbuat demikian. Orang-orang Israel akan terbagi dalam 72 golongan, umatku akan terbagi dalam 73 golongan, seluruh dari mereka akan masuk neraka, dan satu dari mereka akan masuk surga. Kami bertanya: "Siapakah golongan yang selamat itu?" Rasulullah menjawab: "Aku dan Para Shahabatku".(Tirmidzi 2565)

SIFAT DAN KARAKTER AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH

1. Mereka adalah pemegang tali Allah

Abu Bakar As Siddiq ra berkata:
"Ahlus Sunnah adalah mereka yang selalu berpegang teguh pada tali agama Allah swt. tanpa ada keraguan sedikit pun"

Umar bin Khaththab r.a. berkata:
"Akan ada suatu hari di mana orang-orang akan berdebat denganmu tentang syubhat Qur'an (untuk membuat ta'wil dan Tafsir), maka lawanlah mereka dengan sunnah, orang-orang Ahlus Sunnah wal Jama'ah paham bahwa kitab Allah lebih baik dari apapun (sunan Al Damiri vol.1 hal 49)

2. mereka adalah suri tauladan yang baik, mereka menuntun ke jalan yang benar ( Al-Qudawatus Salihun)

Abdullah ibnu Abbas r.a. berkata :
"Allah swt berfirman: "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri ada pula yang menjadi hitam muram...."(QS. 3:106),

mereka yang wajahnya menjadi putih berseri adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan mereka yang wajahnya muram menjadi hitam adalah Ahlul Firqah wal Bid'ah". (Tafsir dari ayat(QS.3:106) dalam Tafsir Al-Qurtubi, dan Ibnu Katsir dan Al-Bukhari)

Amru bin Qayis Al-Mulla'i (d. 143) berkata:
"Apabila kamu melihat seorang pemuda berada di antara Ahlus Sunnah wal Jama'ah, maka ia akan menjadi orang yang baik, dan apabila kamu melihatnya berada di antara orang-orang bid'ah maka jauhkan dirimu darinya, sesungguhnya seseorang yang tumbuh/berada dengan orang-orang yang berilmu mulai dari masa kecilnya (hingga ia dewasa) maka selamatlah dia." (Al Sharh wal Ibana, hal 133)

Ibnu Shouzab berkata:
"Allah akan memberikan berkah-Nya kepada anak muda atau orang non Arab lainnya, jika mereka mau menjadi teman orang Ahlus Sunnah."(Al Sharh wal Ibana hal 133-Ubaidullah bin Muhammad bin battah Al Akburi (d.387)

Ayub Al-Sikhtiyaani berkata:
"Satu hal yang paling menggembirakan bagi pemuda atau orang non Arab yaitu bahwa Allah membimbingnya pada orang 'Alim (berlimu) dari golongan Ahlus Sunnah". (Sharh usul I'tiqaad Ahlus Sunan-Imam Laal'ikaie vol.1 hal 60 H 30)

Imam Ahmad bin Hambal berkata:
"Sesungguhnya golongan yang menang itu adalah Ahlul Hadits, jika bukan mereka , lalu siapa lagi?".

Qodi Al-Fudhail bin Iyaad (d.187) menjelaskan pertanyaan Imam Ahmad:
Ahmad berkata bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah kelompok yang menang, dan.....Ahlul Hadits".
Qodi Iyaad berkata:
"Allah mempunyai empat....bahwa yang akan memajukan negeri adalah orang-orang Ahlus Sunnah".

3. Mereka tidak menyebut dirinya dengan nama lain selain orang-orang Islam dan Ahlus Sunnah dan Al Jama'ah atau Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Karena Rasulullah saw memanggil nama mereka dengan sebutan seperti itu, Allah berfirman:

"Jika mereka beriman pada apa yang telah kamu beriman kepadanya sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada di jalan yang salah".(QS.2:137)

Ibnu Abbas berkata:
"Barang siapa yang menyebut dirinya dengan nama satu aliran atau nama paham baru (selain Islam), maka berarti ia telah keluar dari agamanya (Islam) ".(kitab Al Sharh hal 137)

Qadi Iyaad menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Imam Malik, "Siapakah itu Al Sunnah?" Imam Malik berkata: "orang yang tidak mempunyai gelar yang mereka ketahui, bukan jahmis, bukan rafidis, bukan.....(Tartib Al Madarik, vol.1 hal 72)

Ibnu Qayyim mengisahkan tentang seorang laki-laki yang bertanya pada Imam Ahmad tentang Ahlus Sunnah.

Imam Ahmad berkata: "Seseorang yang tidak menyebut namanya kecuali Al-Sunnah maka ia dari golongan Al- Sunnah'. (Madarik Al-Salikiin-Ibnu Qoyyim, vol.3 hal 174)

Imam Malik bin Moghoul (d.159 H) berkata:
"Jika seseorang memanggil dirinya sendiri dengan panggilan sesuatu yang selain dari apa yang diajarkan Islam atau As- Sunnah, maka sesungguhnya dia telah memanggilnya dengan panggilan ajaran/agama (selain Islam) sesuai dengan agama yang kamu ingini". (Al-Durr Al-Manthsur-Imam Al-Suyuti vol.2 hal 63) dan (kitab Al Sharh hal 137) dan (kitab Al Sharh-Al Laalikaie vol 1hal 62)

Diberitakan oleh Imam Maimun bin Mahran (d. 117 H) berkata:
"Sungguh berani dirimu jika engkau menyebut dirimu dengan nama selain dari Al-Islam". (kitab Al-Sharh ibnu Battah Al-Akburi hal 137)

4. Mereka selalu mengikuti sunnah, mereka tidak mengikuti bid'ah

Al Fudhayl bin Iyaad (d.187 H) berkata:
"Aku pernah bersama dan bertemu dengan seluruh orang-orang terbaik, mereka dari Ahlus Sunnah dan mereka semua melarang kamu untuk mengikuti bid'ah.(kitab Al-Sahrh wal Ibana hal 153)
Jadi ciri mereka adalah mengikuti As-Sunnah, dan melarang orang-orang untuk mengikuti bid'ah.
Orang-orang mendekati Abu Bakar dan Bertanya,"Terdapat banyak Sunni, Siapakah Sunni itu?" Abu Bakar bin 'ashaah (d.194 H) berkata:
"Sunnni adalah orang yang jika kamu berbicara tentang hawa, maka hal tersebut tidak menjadi masalah baginya" (mereka tidak mengikuti hawa nafsu).(Kitab Al I'tiqaad-Al Imam Al Laalikaie vol 1 hal 65)

Karena hal tersebut tidak mempengaruhinya apapun yang kamu katakan tentangnya dari hawa, entah itu nasionalisme, rasisme dan sebagainya, karena ia tahu bahwa ia adalah Muwahhid (orang yang kuat tauhidnya).
Ayub Al-Sakhtiyaani (d.131 H-tabi') berkata pada Umarah bin Zaa zan:

"Jika seseorang itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, jangan tanyakan padanya , bagaimanapun keadaannya". (kitab Al-I'tiqaad-Al Imam Al Laalikaie vol 1 hal 60)

Mereka bertanya padanya tentang siapa Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Ibnu Taymiyyah berkata:
"Mereka adalah umat yang terbaik dan tertinggi, dan mereka adalah orang yang berada di jalan yang lurus, orang-orang yang benar dan adil, dan mereka melarang bid'ah dan mereka hanya pengikut-pengikut yang haq".(Majmu Al-Fattawa, vol.3 hal 368-369)

5. Mereka adalah Al-Ghurabaa' (dan Al-Taa'ifah Al-Zaahirah dan Al Firqotul Naajiyah)

Mereka tidak mengajak kepada persatuan dengan siapa saja yang batil dan yang menyimpang, karena mereka ada di pihak yang benar, mereka mengajak agar kita berpegang pada tali agama Allah, karena itulah yang akan menyebabkan persatuan

Imam Hasan Al-Basri berkata:
"Sunnahmu yang berasal dari Allah akan selalu benar, perbedaan antara siapa yang (halus)...dan yang kasar, berpegang teguh pada sunnah (shari'ah). Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah golongan yang jumlahnya kecil dan besok akan menjadi lebih kecil, mereka bukanlah orang yang suka berlebih-lebihan, bukan juga orang yang rasionalis (mendewakan akal) dan bukan golongan bid'ah. Berpeganglah pada sunnah".(Sunan Al Damiri vol.1, hal 72, Hadits no. 218)

Sofyan Ats-Tsauri (d.161 H) berkata:
"Jagalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dengan baik, karena mereka adalah Al-Ghurabaa', jika kamu mendengar bahwa ada seseorang di Timur dan seseorang di Barat, maka orang Sunnah akan mengirimi mereka berdua salam. Sungguh luar biasa Ahlus Sunnah wal Jama'ah.(Al-Imam Al-Laalikaie-kitab Usul Al-I'tiqaadie vol 1 hal 64)

Sofyan Tsauri dikenal sebagai ahli tafsir. Beliau mengumpulkan tafsir dari Ibnu Abbas r.a.

Abdullah bin Mubarak (d.181 H) berkata:

"Ketahuilah, bahwa aku melihat kematian hari ini merupakan karomah bagi setiap muslim yang bertemu Allah, melalui Sunnah (Shari'ah). Kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Kepada Allah kita mengadu tentang isolasi kita dari yang lainnya, dan kebanyakan Ikhwan dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah meninggal dunia, dan orang-orang bid'ah mulai bermunculan, kepada Allah kita memohon agar kita dipermudah, ketika Bid'ah mulai bermunculan dan ulama' mulai menghilang".(Al-Imam Ibnu Wadhaah-kitab Al-Bida' hal 39)

6. Ihyaa Faridhatul Jihad wal Muna Fahah (mereka selalu membangkitkan/menghidupkan kembali semangat jihad dan mengajak kebaikan dan melarang kejahatan).

Ahlus Sunnah wal Jama'ah satu-satunya yang percaya bahwa hukum asal tentang darah dan kekayaan dari orang-orang kafir adalah halal bagi muslim, kecuali oleh "Imaan" (jika mereka memeluk Islam) atau "amaan" (perjanjian perlindungan).
Jabir bin Abdullah mengisahkan:

'Rasulullah saw. bersabda:
"Akan ada generasi penerus dalam umatku, yang akan memperjuangkan yang haq, kamu akan mengetahui mereka nanti pada hari kiamat, dan kemudian Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, "Oh Isa, Pimpinlah jama'ah (sholat), "ia akan berkata : " Tidak, Kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah saw. dan orang-orang mereka sendiri". (Muslim 3546)

Uqbah bin Amir mengisahkan:
"Rasulullah saw. berkata: "Akan selalu ada bagian kecil yang selalu berjuang di jalan Allah, mereka akan selalu memberikan... pada musuh, hal tersebut tidak akan merugikan mereka, bagaimanapun tidak setuju dengan mereka, sampai hari kiamat mereka akan tetap berlanjut seperti ini".(Muslim)

Rasulullah saw. bersabda:
"Akan selalu ada kelompok dari umat yang akan memperjuangkan yang haq, sampai pada akhirnya dari mereka akan melawan dajjal".

Salamah bin Kaffay berkata:
"Aku duduk bersama Rasulullah saw. aku berkata : "Oh Rasulullah, orang-orang melepaskan pelana dari kuda-kuda mereka, dan meletakkan senjata, dan mengatakan tidak ada jihad". Rasulullah saw. marah dan berkata: "Mereka adalah pembohong, sekarang perang dimulai, akan ada penerus dari umatku, dan mereka akan membela kebenaran, Allah akan membelokkan hati orang-orang yang dikehendaki, dan akan ada orang-orang yang beruntung dari mereka pada hari kiamat nanti, dan kuda-kuda Allah kebaikan akan terikat dengannya sampai hari kiamat. Dan itu ditampakkan padaku bahwa aku akan meninggal dunia dan aku akan bersama kalian, dan kalian akan mengikuti aku satu persatu, waktu demi waktu kamu akan dibelokkan dari mengikuti aku dan kamu akan saling membunuh, dan mereka yang beriman akan kembali ke Al-Sham".(Musnad Imam Ahmad dan Al-Nasa'i dan Al-Baani (sahih).

Hal ini pada waktu Fathu Mekkah di Syam akan ada pertentangan antara muslim dan Yahudi di mana dajjal akan datang.

Wallahu 'alam bisshowab !

BESA, Ketika Muslim Menyelamatkan Yahudi

sumber : Republika

CAIRO — Nama Norman Greshman tiba-tiba banyak dicari orang-orang, terutama mereka yang telah melihat hasil jepretan serta cerita yang ditulisnya, yaitu Muslim melindungi dan memberi tempat kepada Yahudi ketika Holocaust terjadi. "Saya ditanya orang, ‘Muslim menyelamatkan Yahudi, bagaimana mungkin?” ujar seniman fotografer Yahudi Amerika seperti yang dilansir oleh IslamOnline.net.

Gershman telah terlibat dalam proyek-lima tahun khusus untuk menghargai kisah kepahlawanan Muslim Albania ketika menyelamatkan ribuan umat Yahudi, baik yang tinggal di Albania atau pengungsi saat Perang Dunia ke-. Proyek "BESA-kode kehormatan' itu dimulai ketika ia memulai berburu foto tentang masyarakat non Yahudi yang menyelamatkan Yahudi saat holocaust, di New York. Ia terpesona ketika membaca jika diantara penyelamat Albania tersebut terdapat nama-nama Muslim.

Pencarian Greshman membawanya ke Yad Vashem, museum holocaust di Yerusalem dimana ia menemukan lebih banyak nama Muslim Albania. "Saya berkeliling ke seluruh Albania dan Kosovo dimana saya bertemu dengan anak-anak keturunan penyelamat di usia enam tahun atau lebih tua, jandanya, dan bahkan di kesempatan tertentu saya masih menemukan penyelamatnya yang masih hidup,” tutur Greshman.

Setelah lebih dari empat tahun mengoleksi cerita dan mengabadikan momen dalam jepretan hitam putih, Greshman menggelar pameran pertamanya tahun lalu di Yad Vashem. Pameran tersebut lalu berpindah di markas PBB, New York sebelum akhirnya ia melakukan tur keliling dunia.

Film Dokumenter panjang masih dipersiapkan oleh Greshman, begitu pula antologi buku seni fotografi yang memprofilkan para Muslim penyelamat Yahudi di Albania dan Kosovo. Premier film ditargetkan untuk ditayangkan ke seluruh negara pada tahun 2009. "Saya bangga dan bahagia dapat menyajikan cerita ini kepada dunia,” kata Greshman

Al Quran & BESA

Banyak orang penasaran tentang judul yang Greshman pilih untuk melabeli karya yang ia buat susah payah selama lima tahun "BESA ialah budaya lokal penduduk Albania yang telah ada ribuan tahun lalu,” paparnya "Keyakinan BESA mengatakan jika seseorang mengetuk pintumu maka anda memilik kewajiban mutlak –tidak peduli siapa orang tersebut—untuk menyelamatkan nyawa mereka,” kata Greshman lagi

Memang bukan hanya Muslim yang menyelamatkan Yahudi di Albania, melainkan juga penduduk dengan agama-agama lain. Mereka melakukan berdasar BESA, keyakinan yang juga memiliki spirit sama dengan agama lain termasuk Islam. Kode sosial ini merupakan aturan kuno masyarakat Albania, yang sering kali ditempatkan berada di atas aturan agama, sebab mengutamakan toleransi keberagamaan

Aturan bermasyarakat itu mulai disusun dalam 'Kanuni i Leke Dukagjinit’ kode masyarakat Albania di abad 15. Salah satu bab kode bermacam aspek kemasyarakatan itu menyoal tentang agama. Pendekatan dengan cara toleransi dan menghormati agama lain ialah sebagian dari aturan yang wajib ditaati oleh setiap penduduk Albania.

Lebih lanjut Greshman mengatakan, jika ia tidak menemukan bukti ada warga Yahudi yang dikembalikan ke Nazi oleh para mayoritas Muslim Albania. Ada sepuluh kali lipat umat Yahudi lebih banyak dari sebelumnya di Albania setelah Perang Dunia ke-2 "Faktanya, Albania ialah satu-satunya negara yang melindungi Yahudi, padahal negara ini juga dijajah Nazi.” Kata Gershman. "Mereka datang sebagai tamu. Mereka diberi nama muslim dan tinggal bersama keluarga Muslim,” imbuhnya.

Lewat penuturan para penyelamat, Gershman menemukan jika Muslim Albania tetap melihat nilai-nilai BESA dan menganggap sebagai manifestasi ajaran Islam yaitu berkomitmen untuk melindungi dan menyelamatkan mereka yang lemah dan tertindas "I remember that some of them said 'there is no BESA without the Qur'an.'" Adanya dasar pemikiran tersebut, membuat Gershman percaya jika gagasan tidak menyelamatkan Yahudi dari Nazi justru membuat Muslim Albania tidak merasa nyaman.

" Mereka melakukan itu atas nama agama mereka. Secara mutlak dapat dilihat jika tidak ada prasangka sama sekali di sini,” kata Greshmen. " Saya juga bertanya, ‘mengapa anda melakukan itu’ Apakah di dalam Al Qur’yang membuat anda melakukan itu?' Mereka hanya akan tersenyum,” tutur Greshman. “Beberapa diantaranya malah menjawab, ‘kita harus menyelamatkan nyawa orang untuk pahala sorga,”


Pesan kepada Barat

Greshman percaya jika kepahlawanan Muslim Albania ialah kenyataan luar biasa."Bisa jadi ini cuma cerita kecil, karena kita tidak berbicara tentang ratusan atau ribuan orang yang diselamatkan. Tapi ini sebuah cerita penting,” ujarnya berkeras. “Dikatakan jika ada orang baik di dunia ini dan mereka berasal dari setiap agama,” kata Greshman

Gershman juga mengungkapkan kepercayaannya terhadap cerita tentang warisan toleransi keberagamaan di Albanian yang menurun dan berlaku pula pada Muslim yang selama ini dipotret stereotip. "Pesan saya kepada dunia Barat ialah, jika masih ada orang baik di dunia dan banyak dari mereka adalah Muslim,” ujar Greshman. "Jika anda melihat foto-foto dan cerita saya, maka tidak akan muncul pertanyaan jika mereka ialah orang baik,” lanjutnya.

“Saya meragukan jika ada yang melihat karya saya, terutama Barat akan berkomentar jika orang-orang ini ialah militan atau pendukung kekerasan,” Ia pun mengungkapkan jika Yahudi Amerika yang telah mempelajari Sufisme, pun banyak yang mengatakan jika Islam tidaklah seperti yang Barat pikirkan."Bagi saya, Islam ialah puisi, ialah ilmu, dan sangat dekat dengan sifat ketuhanan,” ujar Greshman./it

Rabu, 20 Agustus 2008

FIDYAH

Fidyah adalah denda yang harus dibayarkan kepada orang faqir/miskin yang disebabkan meninggalkan puasa wajib bulan Ramadhan. Sedangkan yang menyebabkan seseorang harus membayar fidyah adalah karena beberapa hal, antara lain:

1 Tidak mampu
Orang yang kondisinya tidak mampu untuk berpuasa seperti orang yang sudah tua maka boleh meninggalkan kewajiban puasa Ramadhan. Dan sebagai gantinya, tidak perlu mengqadha‘/mengganti puasa di hari lain, tetapi dengan membayar 1 mud makanan kepada fakir miskin satu hari untuk satu orang.

Ibn Abbas r.a berkata: Orang lanjut usia diberi keringanan tidak berpuasa dengan di haruskan memberi makan seorang miskin setiap hari dan ia tidak wajib qada. (Daragutni dan Hakim. Hadis ini oleh Hakim dinyatakan shahih)

Alah berfirman:
???? ????? ??????? ???? ???? ?????.
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin". (QS. Al-Baqarah: 184).

2 Sakit
Sakit yang diperkirakan sulit untuk bisa disembuhkan lagi, sehingga tidak mungkin baginya untuk mengqadha‘ puasa di hari lain. Karena itu bagi mereka yang menderita sakit seperti ini, siahkan mengganti puasa dengan membayar fidyah.

3 Hamil/Menyusui
Wanita yang hamil atau menyusui bila boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Menurut sebagian ulama, untuk menggantinya adalah dengan mengqadha‘ dan juga membayar fidyah.

Namun sebagian lain seperti Al-Hanafiyah mengatakan cukup mengqdha‘ saja tanpa membayar fidyah.

Hadits Nabi SAW
Dari Ibnu Abbas ra. Berkata, ?Keringanan buat laki dan wanita usia lanjut yang tidak mampu puasa adalah boleh berbuka dengan membayar (fidyah), memberi makan 1 orang miskin untuk sehari. Dan keringanan buat wanita hamil dan menyuusi bila mengkhawatirkan anak mereka adalah membayar fidyah.(HR Abu Daud)

Sebab Perbedaan
Para ulama memang berbeda pendapat dalam mengkategorikan wanita hamil dan menyusui, apakah digolongkan sebagai orang sakit atau sebagai orang yang lemah/tidak mampu berpuasa (seperti orangtua dan lain-lain).
Yang mengkategorikan sebagai orang sakit, maka mewajibkan qadha‘/mengganti puasa, karena bagi orang sakit memang wajib qadha‘. Firman Allah:

Maka barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka waib mengganti sebanyak hari yang dia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain (QS Al-Baqarah: 184)

Sedangkan yang mengkategorikan orang lemah/tidak mampu puasa, mewajibkan bayar fidyah tanpa qadha‘.

Dalilnya adalah terusan ayat diatas yaitu:
Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) membayar fidyah)yaitu memberi makan seorang miskin (QS Al-Baqarah 184).

Membayar fidyah ditetapkan berdasarkan jumlah hari yang ditinggalkan untuk berpuasa. Setiap satu hari seseorang meninggalkan puasa, maka dia wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin.

Sedangkan teknis pelaksanaannya, apakah mau perhari atau mau sekaligus sebulan, kembali kepada keluasan masing-masing orang. Kalau seseorang nyaman memberi fidyah tiap hari, silahkan dilakukan. Sebaliknya, bila lebih nyaman untuk diberikan sekaligus untuk puasa satu bulan, silah saja.

Yang penting jumlah takarannya tidak kurang dari yang telah ditetapkan.

Berapakah Besar Fidyah?

Sebagian ulama seperti Imam As-Syafi‘i dan Imam Malik menetapkan bahwa ukuran fidyah yang harus dibayarkan kepada setiap satu orang fakir miskin adalah satu mud gandum sesuai dengan ukuran mud Nabi SAW. Yang dimaksud dengan mud adalah telapak tangan yang ditengadahkan ke atas untuk menampung makanan, kira-kira mirip orang berdoa.

Sebagian lagi seperti Abu Hanifah mengatakan dua mud gandum dengan ukuran mud Rasulullah SAW atau setara dengan setengah sha‘ kurma atau tepung. Atau juga bisa disetarakan dengan memberi makan siang dan makan malam hingga kenyang kepada satu orang miskin.

Dalam kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili jilid 1 halaman 143 disebutkan bahwa bila diukur dengan ukuran zaman sekarang ini, satu mud itu setara dengan 675 gram atau 0,688 liter. Sedangkan 1 sha` setara dengan 4 mud . Bila ditimbang, 1 sha` itu beratnya kira-kira 2.176 gram. Bila diukur volumenya, 1 sha` setara dengan 2,75 liter.

Siapa Saja yang Harus Bayar Fidyah?

1. Orang yang sakit dan secara umum ditetapkan sulit untuk sembuh lagi.
2. Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa.
3. Wanita yang hamil dan menyusui apabila ketika tidak puasa mengakhawatirkan anak yang dikandung atau disusuinya itu. Mereka itu wajib membayar fidyah saja menurut sebagian ulama, namun menurut Imam Syafi‘i selain wajib membayar fidyah juga wajib mengqadha‘ puasanya. Sedangkan menurut pendapat lain, tidak membayar fidyah tetapi cukup mengqadha‘.
4. Orang yang menunda kewajiban mengqadha‘ puasa Ramadhan tanpa uzur syar‘i hingga Ramadhan tahun berikutnya telah menjelang. Mereka wajib mengqadha‘nya sekaligus membayar fidyah, menurut sebagian ulama.

Puasa Ramadhan

PUASA RAMADHAN



*I. MASYRU'IYAT DAN MATLAMAT PUASA RAMADHAN.*

1. "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa "( QS Al-Baqarah : 183 ).

2. "Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil ), karena itu barangsiapa diantara kamu menyaksikan (masuknya bulan ini ), maka hendaklah ia puasa... " ( Al-Baqarah

: 185).

3. " Telah bersabda Rasulullah saw. : Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad ituadalah

utusan Allah. Mendirikan Shalat Mengeluarkan Zakat puasa di bulan Ramadhan Menunaikan haji ke Ka'bah. ( HR.Bukhari Muslim ).

4. "Diriwayatkan dari Thalhah bin ' Ubaidillah ra. : bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi saw. : ia berkata : Wahai Rasulullah beritakan

kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda : puasa Ramadhan. Lalu orang itu bertanya lagi : Adakah puasa lain yang diwajibkan atas

diriku ?. Beliau bersabda : tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah. ".

KESIMPULAN : Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, kita dapat mengambil pelajaran :

1. puasa Ramadhan hukumnya Fardu ‘Ain ( dalil 1, 2, 3 dan 4 ).

2. puasa Ramadhan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan (dalil no 1).

*II. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA*

1. Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

2. "Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat 'Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah

melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah ( dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan." (Riwayat Ahmad dan Nasai )

3. " Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum'at sampai Shalat Jum'at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi." ( H.R.Muslim)

4. "Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: puasa dan Qur'an itu memintakan syafa’at seseorang hamba di hari

Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk

memintakan syafa'at baginya. Dan berkata pula AL-Qur'an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku

hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat." ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

5. "Diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut " Rayyaan".

Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu,

maka ditutuplah pintu itu." (HR. Bukhary Muslim).

6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary

Muslim).

KESIMPULAN : Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :

1. Bulan Ramadhan adalah:

* Bulan yang penuh Barakah.
* Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
* Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
* Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya
lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni
malam LAILATUL QADR.
* Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati
siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'shiyat
agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :

* Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan
yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
* Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa't.
* Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama
Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6).


*III. CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN*

1. "Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya

katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa." ( H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).

2. "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru'yah dan berbukalah ( akhirilah puasa

Ramadhan ) dengan melihat ru'yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya'ban selama Tiga Puluh hari. "( HR. Bukhary

Muslim).

KESIMPULAN

* Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru'yah,
meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (
dapat dipercaya ).
* Jika bulan sabit ( Hilal ) tidak terlihat karena tertutup awan,
misalnya, maka bilangan bulan Sya'ban digenapkan menjadi Tiga
Puluh hari. ( dalil 1 dan 2).
* Pada dasarnya ru'yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara,
berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah '
Ala Minhaajinnabiy sudah tegak ( dalil 2 ).
* Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya
perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat
Islam mengikuti ru'yah yag nampak di negeri masing-masing. ( ini
hanya pendapat sebagian ulama).


*IV. RUKUN PUASA*

1. "... dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian

sempurnakanlah puasa itu sampai malam...( AL-Baqarah :187).

2. "Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (...hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam...), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benang putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. Dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). " ( H.R. Bukhary Muslim).

3. "Allah Ta'ala berfirman : " Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya " ( Al-Bayyinah :5)

4. "Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan." ( H.R

Bukhary dan Muslim).

5. "Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa

baginya ." (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.

KESIMPULAN:

Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun puasa Ramadhan adalah sebagai berikut :

a. Berniat sejak malam hari ( dalil 3,4 dan 5).

b. Menahan makan, minum, koitus (Jima') dengan isteri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari ( Maghrib), ( dalil 1 dan 2).

*V. YANG DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN.*

1. "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. " ( Al-Baqarah : 183)

2. "Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena ( kewajiban syar'i/ taklif) dari tiga golongan .

- Dari orang gila sehingga dia sembuh - dari orang tidur sehingga bangun - dari anak-anak sampai ia bermimpi / dewasa." ( H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan

Tirmidzi).

KESIMPULAN

Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan puasa Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah

baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.


*VI. YANG DILARANG PUASA*

1. "Diriwayatkan dari 'Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak

diperintah mengqadha Shalat "( H.R Bukhary Muslim).

KESIMPULAN

Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.


*VII. YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADHAN*

1. "(Masa yang diwajibkan kamu puasa itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur'an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi

keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang

menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia puasa di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia

berbuka, kemudian wajiblah ia puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki

kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadhan), dan

supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur." ( Al-Baqarah:185.)

2. "Diriwayatkan dari Mu'adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk puasa, maka DIA turunkan ayat ( dalam surat

AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau puasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain ( AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah ( keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa. " ( HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).

3. "Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk puasa dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda :

hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta'ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus puasa maka tidak ada dosa baginya " ( H.R.Muslim)

4. "Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan puasa. Selanjutnya ia

berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian,

dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih puasa dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besok kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami puasa ." ( H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

5. "Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadhan. Diantara kami ada

yang puasa dan diantara kami ada yang berbuka . Yang puasa tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu puasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik"

(HR. Ahmad dan Muslim)

6. "Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau puasa sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga puasa. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap

puasa karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (puasa). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu

sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap puasa. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk puasa. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka." (HR.Tirmidzy).

7. "Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup

membayar fidyah memberi makan orang miskin " ( Riwayat Abu Dawud ). Shahih

8. "Diriwayatkan dari Nafi' dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya ( tentang puasa Ramadhan ), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka

ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa ." (Riwayat Baihaqi) Shahih.

9. "Diriwayatkan dari Sa'id bin Abi 'Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang

menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika puasa Ramadhan. Beliau berkata : Keduanya boleh berbuka (tidak puasa ) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa" (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syaratMuslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah : Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :

1. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.
2. Orang yang bepergian ( Musafir ). Musafir yang merasa kuat boleh
meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan
berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.

Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:

1. Umurnya sangat tua dan lemah.
2. Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
3. Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
4. Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
5. Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu
dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang
ringan. ( dalil 2,7,8 dan 9).


VIII HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

1. "...dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar ), kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam..." ( Al-Baqarah : 187).

2. "Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum " (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama'ah kecuali An-Nasai).

3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa - maka tidak wajib qadha ( puasanya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha ( puasanya batal ). ( H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy )

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh ( datang bulan ) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya

dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa ( Ramadhan ) sejak malam, maka tidak ada

puasa baginya. ( H.R : Abu Daud ) hadits shahih.

6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa ( Ramadhan ), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau

bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah

kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara

sudut-sudutnya ( Madinah ) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda :

Ambillah untuk memberi makan keluargamu. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

KESIMPULAN

Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa ( Ramadhan ) ialah sbb :

* Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan
minum di siang hari, maka tidak membatalkan puasa. ( dalil : 2 )
* Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan,
maka tidak membatalkan puasa. ( dalil :3 )
* Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6 )
* Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadhan, ini
disamping puasanya batal ia terkena hukum yang berupa :
memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan
berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam
puluh orang miskin.( dalil : 7 )
* Datang bulan di siang hari Ramadhan ( sebelum waktu masuk Maghrib
).( dalil : 4 )

*_IX. HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU IBADAH PUASA._*

1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas. ( H.R : Ahmad, Malik dan Abu Daud )

3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan puasa. (H.R : Al-Bukhary ) .

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium ( istrinya ) sedang beliau dalam keadaan puasa dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (

tidak sampai bersetubuh ) sedang beliau dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. ( H.R : Al-Jama'ah kecuali

Nasa'i) hadits shahih.

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan puasa. ( H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat

Muslim ).

6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq ( menghisap air ke hidung )

keraskan kecuali kamu dalam keadaan puasa. ( H.R :Ashhabus Sunan )

7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang puasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya ( Ahmad dan Al-Bukhary ).

KESIMPULAN

Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan puasa :

1. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun
udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.
2. Menta'khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1 )
3. Berbekam pada siang hari. ( dalil : 3 )
4. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh
di siang hari.( dalil 4 dan 5 )
5. Beristinsyak ( menghirup air kedalam hidung )terutama bila akan
berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. ( dalil : 6 )
6. Disuntik di siang hari.
7. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)

*_ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN._*

1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang

matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia ( ummat Islam ) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan

(menyegerakan) berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. ( H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem )

4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan

kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. ( H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi )

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo'a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala

tetap ada Insya Allah. ( H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan )

6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R :

Al-Bukhary )

8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma'di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. ( H.R : An-Nasa'i )

9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat ( Shubuh ). saya berkata :

Berapa saat jarak antara keduanya ( antara waktu sahur dan waktu Shubuh )?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. ( H.R : Al-Baihaqi )

11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia

menyelesaikan hajatnya ( makan/minum sahur )daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem )

12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di'iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r.a menjawab : ya, lalu ia meminumnya. ( H.R Ibnu Jarir )

13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata :Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika

Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur'an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan( cepat berbuat kebaikan ) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary )

14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata :Adalah Rasulullah saw. menggalakkan qiyamullail (shalat malam ) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan

secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. ( H.R : Jama'ah )

15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir ( bulan Ramadhan ) beliau benar-benar menghidupkan malam (

untuk beribadah ) dan membangunkan istrinya ( agar beribadah ) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya ). ( H.R : Al-Bukhary dan

Muslim )

16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir ( di bulan Ramadhan ) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. ( H.R : Muslim )

17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan

Ramadhan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka'at baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, caranya :

Beliau shalat empat raka'at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka'at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga

raka’at. ( H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya )

18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka'at yang ringan,

kemudian shalat delapan raka'at, kemudian shalat witir. ( H.R : Muslim )

19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka

Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka'at dua raka'at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka'at. ( H.R : Jama'ah)

20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau ( bermakmum di belakang ), lalu

beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka

berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang

menghalangi aku untuk keluar kepada kalian ( untuk mengimami shalat ) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

21. Dari Ubay bin Ka'ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A'la )dan ( Qul ya ayyuhal kafirun)

dan (Qulhu wallahu ahad ). ( H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa'i dan Ibnu Majah )

22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : ( artinya ) Ya

Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri

kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang

telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. ( H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa'i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda :Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. ( H.R :

Jama'ah )

24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. (H.R : Muslim )

25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka

Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, ( ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia ( lailatul qadar ) pada malam-malam

ganjil. ( H.R : Muslim )

26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah ( artinya ) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad )

27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan

oleh Allah Azza wa Jalla. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila hendak beri'tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat

i'tikafnya.......... ( H.R :Jama'ah kecuali At-Tirmidzi )

29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila beri'tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia ( buang air, mandi dll...) ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

30. Allah ta'ala berfirman : ( artinya ) Janganlah kalian mencampuri mereka( istri-istri kalian ) sedang kalian dalam keadaan i'tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati...( Al-Baqarah : 187 )

31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku

dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji , jangan

berteriak-teriak ( pertengkaran ), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan : " sesungguhnya saya sedang puasa" . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan

kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. ( H.R: Jama'ah Kecuali Muslim ) Maksudnya

Allah tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.

33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji

bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya ) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabi pun bersabda lagi : Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. ( H.R :Muslim)

34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan ) setingkat dengan haji. ( H.R : Muslim)

KESIMPULAN

Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan puasa Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb :

1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. ( dalil: 6 ) Sunnah berbuka adalah sbb :

1. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan
makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru
melaksanakan shalat. ( dalil: 2,3 dan 4 )
2. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan,
jangan shalat dahulu. ( dalil : 6 )
3. Setelah berbuka berdo'a dengan do'a sbb : Artinya : Telah hilang
rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap
wujud insya Allah. ( dalil: 5 )

2. Makan sahur. ( dalil : 7 dan 8 ) Adab-adab sahur :

a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10 )

b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur

karena sudah masuk waktu Shubuh. ( dalil 11 dan 12 ) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi'in.

3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur'an ( dalil : 13 )

4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama'ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir( 20 hb. sampai akhir

Ramadhan). (dalil : 14,15 dan 16 ) Cara shalat Tarawih adalah :

1. Dengan berjama'ah. ( dalil : 19 )
2. Tidak lebih dari sebelas raka'at yakni salam tiap dua raka'at
dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka'at dikerjakan
dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka'at. ( dalil : 17 )
3. Dibuka dengan dua raka'at yang ringan. ( dalil : 18)
4. Bacaan dalam witir : Raka'at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka't
kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka'at ketiga : Qulhuwallahu
ahad. ( dalil : 21 )
5. Membaca do'a qunut dalam shalat witir. ( dalil 22 )

5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat

beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. ( dalil : 25 dan 26 )

6. Mengerjakan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27 )

Cara i'tikaf :

a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i'tikaf di masjid. ( dalil 28 )

b. Tidak keluar dari tempat i'tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak. ( dalil : 29 )

c. Tidak mencampuri istri dimasa i'tikaf. ( dalil : 30)

7. Mengerjakan umrah. ( dalil : 33 dan 34 )

8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32 )

Maraji’ (Daftar Pustaka):

1. Al-Qur’anul Kariem

2. Tafsir Aththabariy.

3. Tafsir Ibnu Katsier.

4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.

5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.

6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.

(Oleh: Ustadz Abu Rasyid)